2015, Porsi Nilai UN dan UAS Seimbang




                                             Siswa SMA saat melaksanakan ujian nasional.

BANDUNG – Pada 2015, ujian nasional (UN) masih akan dilaksanakan. Namun, porsi UN tahun ini akan seimbang dengan nilai ujian akhir sekolah (US). “Porsinya 50:50 dengan ujian akhir sekolah,”
kata penanggung jawab pembuat komitmen UN 2015 Disdik Jabar Yesa Sarwedi Hamiseno. Hal tersebut pun terkait dengan Permendikbud No. 144 tahun 2014 tentang Kriteria Kelulusan Peserta Didik UN tahun 2015.
Dikatakan Yesa, pihak Pembuat Komitmen UN 2015 akan membenahi kembali permasalahan yang terjadi pada UN sebelumnya. Pembenahan, kata dia, akan dilakukan pada pengadaan naskah, kejujuran, dan penjelasan mengenai hasil UN.

Biasanya, Yesa mengatakan, siswa hanya mengetahui hasil UN secara umum saja. Sehingga mereka tidak mengetahui di mana letak kelemahan mereka. “Oleh karena itu, penilaian UN 2015 nanti akan lebih rinci,” ujarnya, akhir pekan.

Yesa mengatakan, setiap materi akan dijabarkan nilainya. Dengan demikian, siswa bisa mengetahui pada materi apa letak kelemahannya.

UN, menurut Yesa, hanya akan digunakan sebagai penilaian kompetensi siswa. Namun demikian, standar penilaian UN masih sama dengan tahun sebelumnya. Setiap mata pelajaran nilai minimalnya 4,0, dan  nilai rata-rata UN yakni 5,5. “Hal tersebut sesuai dengan Permen No. 144 tahun 2014 tentang Kriteria Kelulusan Peserta Didik UN tahun 2015,” ujarnya.

Dijelasakan Yesa, sebelumnya, pada 2014 ,perbandingan nilai kelulusan antara UN dengan UAS adalah 60 persen : 40 persen. Maka, pada peraturan UN yang baru nanti, peran sekolah akan lebih besar.

“Penyetaraan porsi dilakukan agar jumlah kelulusan pada 2015 meningkat. Pada 2014 silam, jumlah kelulusan siswa di Jabar mencapai 99 persen. Dengan nilai UN tertinggi diperoleh Kota Bogor,” katanya.

UN memang kerap menjadi pembahasan polemik di dunia pendidikan. Pro-kontra dari berbagai pihak bermunculan. Staf bagian kurikulum SMPN 42 Bandung Asep Saepudin mengatakan, setuju bila UN tetap diadakan. “Karena dari sana jiwa kompetisi anak bisa terasah,” ujarnya

Namun berbeda dengan kalangan siswa yang kebanyakan tidak setuju dengan adanya UN. Siti Komalasari (17 tahun), siswa kelas 12 IPA 3 di SMAN 14 Bandung mengatakan, nilai kelulusan lebih baik ditentukan dan diatur oleh sekolah. Hal ini, kata dia, karena sekolah lebih mengetahui perkembangan siswa. “Masa perjuangan kita dinilai dari tiga hari ujian saja,” ucapnya.( Yasin Habibi)


SUMBER: REPUBLIKA.CO.ID
Bagikan berita :
 
Supported by : Creating Website | MENOREH . Net - Media Partner
Copyright © 2013. Buana Sport - All Rights Reserved
Created by News BUANA.Com
KONTAK REDAKSI